Menurutnya, bom termobarik dikenal memiliki efek ledakan bertekanan tinggi dan suhu panas ekstrem yang dapat mencapai ribuan derajat Celsius. Dampaknya bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga meluluhlantakkan tubuh manusia dalam sekejap.
“Jika benar digunakan terhadap warga sipil, maka ini bukan lagi sekadar operasi militer. Ini adalah persoalan serius hukum humaniter internasional dan nurani kemanusiaan,” tegasnya.
Sejumlah media internasional seperti The Times of India dan Al Jazeera turut memberitakan laporan investigasi terkait dampak serangan tersebut. Laporan itu menyoroti besarnya korban jiwa dan kerusakan yang terjadi di Gaza.
Peringatan untuk Indonesia
Di tengah eskalasi global yang kian memanas, Prof Sutan mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah. Ia secara terbuka meminta Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk meningkatkan kesiapsiagaan nasional.
“Kita hidup di era di mana perang tidak lagi konvensional. Negara harus siaga. Pertahanan tidak cukup hanya simbolik, tetapi harus berbasis teknologi modern dan kekuatan elit yang terlatih,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa eskalasi konflik global berpotensi meluas dan berdampak terhadap stabilitas kawasan maupun keamanan nasional. Karena itu, menurutnya, langkah antisipatif harus dipersiapkan sejak dini.
Seruan untuk Dunia
Lebih jauh, Prof Sutan menyerukan agar para pemimpin dunia tidak tutup mata terhadap dugaan penggunaan senjata dengan daya hancur tinggi terhadap populasi sipil. Ia menilai, jika benar terjadi, hal tersebut harus menjadi perhatian serius lembaga-lembaga internasional dan forum perdamaian global.
“Perdamaian dunia tidak boleh kalah oleh kepentingan politik dan kekuatan militer. Hukum internasional harus ditegakkan,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa tragedi kemanusiaan di wilayah konflik bukan hanya isu regional, melainkan tanggung jawab moral seluruh bangsa di dunia.
Kalau mau, saya bisa buatkan versi yang lebih “meledak” lagi secara gaya bahasa, atau versi investigatif yang lebih dalam dengan struktur ala laporan khusus.
Editor:indra
