Tulang Bawang Barat Indonisia News-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulang Bawang Barat segera turunkan tim cek limbah cair Dapur Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Barokah Dua Putri yayasan tuah gizi Nusantara kelurahan Daya murni 01 di keluhkan warga lantaran diduga mencemari lingkungan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tubaba, Iwan Setiawan, S.H., M.H.,menegaskan bahwa meskipun Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) terbit otomatis melalui sistem OSS, pihaknya memiliki kewenangan penuh untuk melakukan evaluasi lapangan jika muncul dampak negatif di masyarakat.
"Kami akan kroscek izin IPAL dan dokumen SPPL-nya. Jika ditemukan operasional dapur tidak memenuhi standar lingkungan, konsekuensinya wajib ditutup. Limbah cair dari dapur MBG memiliki kandungan organik tinggi; jika dibuang langsung tanpa grease trap atau IPAL, akan mencemari sumur warga dan merusak ekosistem sungai,” tegas Iwan Setiawan, Rabu (11/03/2026).
Iwan juga menghimbau warga yang terdampak untuk tidak ragu melapor langsung ke kantor dinas guna mempercepat proses penindakan teknis. DLH memastikan akan segera menurunkan tim pengawas untuk melakukan audit lingkungan di lokasi tersebut sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Persoalan Dapur SPPG Barokah Dua Putri tidak hanya berhenti pada masalah limbah. Sebelumnya, masyarakat dan wali murid di SDN 22 Tumijajar melayangkan protes keras terkait kualitas makanan yang dinilai jauh dari standar “Makan Bergizi Gratis”.
Temuan Menu:
Wali murid melaporkan menu yang hanya berisi tempe/tahu iris, telur, dan buah tanpa tabel rincian harga serta kandungan gizi. porsinya yang di nilai wali murid tidak sesuai
Ultimatum DPRD:
Ketua Komisi I DPRD Tubaba, Yantoni, mengaku geram dan telah memberikan warning kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mendapati adanya praktik pengurangan porsi yang berpotensi menggagalkan program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, Kepala Dapur SPPG Barokah Dua Putri, Ghozi Farhan, menyatakan siap bertanggung jawab dan melakukan evaluasi. Terkait isu limbah, ia mengklaim bahwa pihaknya telah memiliki sistem penyaringan.
“Izin-izin sedang kami siapkan, termasuk SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) yang sudah terbit. Untuk limbah, sebenarnya kami sudah memasang tiga tahap IPAL penyaring air sebelum dibuang,” klaim Ghozi melalui pesan singkat kepada media.
Meski demikian, klaim tersebut berbanding terbalik dengan kesaksian warga yang mencium bau busuk menyengat dari pipa pembuangan yang mengalir ke sungai Way Sido selama sepuluh hari terakhir operasional dapur.
Selain itu, warga juga mengeluhkan gangguan di tengah malam, perihal suara bising di jam istirahat malam.
“mereka menghidupkan musik terlalu kencang sehingga kami juga terganggu di saat kami tidur,” ujar beberapa warga sekitar. (*)
