Gerakkan Mahasiswa Simeulue (GMS) Menggelar Aksi Damai Di Kantor Gubernur Aceh

Editor: Cut Silvie author photo

 

MINews.Banda Aceh - Suasana tegang tapi penuh semangat mengisi halaman Kantor Gubernur Aceh ketika  Gerakkan Mahasiswa Simeulue (GMS) tiba dengan membawa tiga  tuntutan tegas.



Pertama, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh membatalkan wacana pengalihan rute KMP Aceh Hebat 1 ke Grueng Keukeu-Penang. Kedua, mendesak pemerintah provinsi Aceh untuk menuntaskan infrastruktur jalan lingkar yang ada di kabupaten Simeulue . Ketiga, mendesak pemerintah provinsi Aceh segera menyelesaikan pembangunan irigasi di Desa Sigulai, Kecamatan Simeulue Barat, Kabupaten Simeulue.


Dadang Hardayan sebagai koordinator Lapangan menyampaikan bersama masa aksi, melangkah dengan percaya diri ke komplek kantor pemerintahan provinsi. Tanpa anarkis, mereka membawa spanduk penuh akan coretan berwarna merah yang menyuarakan aspirasi masyarakat.  Simeulue butuh keadilan, Simeulue butuh perhatian.

 

Muhammad Ikbal koordinator mahasiswa simeulue dari Universitas abulyatama juga menuturkan isi hatinya, banyak mahasiswa Simeulue rela hujan-hujanan demi menyuarakan aspirasi masyarakat simeulue.  Aspirasi yang di sampaikan bukan hanya polemik Kapal Aceh hebat 1, akan tetapi isu vital lainnya seperti infrastruktur jalan lingkar simeulue dan pembangunan irigasi di desa sigulai sampai hari sudah terbengkalai berlangsung lama tanpa tanggapan yang memadai.


"Kami mahasiswa simeulue rela hujan-hujanan demi menyuarakan aspirasi masyarakat Simeulue. Yang kami bawakan bukan hanya polemik kapal Aceh hebat akan tetapi terkait pembangunan insfratruktur jalan lingkar simeulue dan irigasi yang ada di desa sigulai" Kata Ikbal

 

Setelah berjam-jam orasi, GMS memintak pemerintah provinsi, menjumpai masa aksi untuk berdialog dan diminta untuk menandatangani poin tuntutan petisi yang dibawa. Namun kata koordinator, sangat di sayangkan pemerintah Aceh tidak menjumpai mahasiswa yang sudah hujan-hujanan demi menyuarakan kepentingan masyarakat. 


"Kami berjam-jam menunggu di kantor gubernur sambil berorasi menyuarakan aspirasi masyarakat namun pemerintah Aceh tak kunjung datang menjumpai kami. Sempat di berikan informasi bahwa sekda Aceh dan Kadishub insyaallah menjumpai kami. Namun tidak mengurangi semangat  kami. Akan tetapi, jelas hari ini pemerintah Aceh terlalu bersilat lidah di atas penderitaan masyarakat. Kita ingin harus ada hitam di atas putih bukan sekedar omong kosong". Ucap Dadang dengan nada tegas


 

Pihaknya menegaskan bahwa ini bukan akhir perjuangan melainkan titik awal di mana harapan kami mulai menyinar lebih terang. Hujan yang membasahi badan ini tidak akan memadamkan semangat sebaliknya, ia akan menyirami benih harapan bahwa suatu hari nanti, jalan lingkar Simeulue akan terhubung sempurna, irigasi Desa Sigulai akan mengalir lancar, dan polemik Kapal Aceh Hebat 1 akan menemukan penyelesaian yang adil. Namun hal ini katanya, hanya akan bisa terjadi bila pemerintah Aceh mendengar dan merealisasikan lansung aspirasi masyarakat yang disampaikan tersebut. 


" Kami percaya, pemerintah pasti akan mendengar suaranya  karena harapan rakyat tidak boleh terus-terusan terlantar." Tutup Dadang

Share:
Komentar

Berita Terkini