Banda Aceh | MIN – Terowongan Gunung Geurutee kembali mencuat.
Saat ditemui di sela kegiatan diskusi
pembangunan daerah, T. Iskandar Daod dengan penuh semangat mengungkapkan bahwa
usulan terowongan ini bukan sekadar impian masa lalu—tetapi kebutuhan nyata yang
belum terjawab hingga kini.
“Kita bicara soal akses utama yang menghubungkan Ibukota Propinsi Aceh ke wilayah barat selatan. Jalan di Gunung Geurutee itu sering longsor, sempit, dan rawan kecelakaan.
Sampai kapan masyarakat harus
menanggung risiko ini?” ujarnya.
Menurutnya, terowongan Geurutee bisa menjadi titik balik bagi percepatan pembangunan wilayah barat selatan yang selama ini tertinggal dari sisi konektivitas.
Akses yang lancar bukan hanya menghemat
waktu dan biaya, tetapi membuka pintu bagi pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan
distribusi hasil bumi lokal.
T. Iskandar mengaku pernah mengusulkan proyek ini saat masih aktif di DPRA, namun hingga kini belum ada langkah nyata dari pemerintah.
“Saya mengajak tim RPJM Aceh sekarang untuk memberi perhatian
serius. Proyek ini sangat strategis dan menyentuh langsung kepentingan
masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak tokoh-tokoh dari wilayah barat selatan Aceh untuk bersatu suara mendorong terwujudnya proyek ini.
“Ini bukan proyek personal, ini kepentingan kolektif. Kalau kita tidak
suarakan bersama, maka akan terus tertinggal.”
Kawasan Gunung Geurutee memang dikenal sebagai salah satu jalur paling menantang di Aceh. Selain medan yang curam, cuaca ekstrem sering menyebabkan longsor dan mengganggu arus lalu lintas.
Tidak
sedikit kendaraan yang harus antri berjam-jam hanya untuk melintasi jalur
tersebut.
Di tengah gencarnya pembangunan di berbagai wilayah Aceh, suara dari barat selatan seperti ini patut menjadi perhatian.
Terowongan Geurutee bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal keadilan
pembangunan.
Akankah pemerintah kali ini mendengar? Waktu
yang akan menjawab. Yang jelas, harapan dari barat selatan kini kembali
bergema, lebih lantang dan lebih mendesak dari sebelumnya. (Yusrizal)
